Sunday, 4 January 2015


Suatu pagi selepas subuh saya mendapat pesan singkat dari seorang teman. Cuaca di luar tampaknya sedang tidak  bersahabat. Langit mendung dan dingin disertai hujan rintik yang awet, membuat saya nyaman berhangat-hangat ria di sofa asyik membaca pesan di  layar smartphone. Rupanya teman saya yang sehari-hari berprofesi sebagai wiraswatsa di bidang multimedia mengajak saya sarapan di luar kota. Hm.. sounds good.

Sop Daging Sapi khas di pasar Muntilan! Menu sarapan pagi yang sangat pas di tengah cuaca mendung pagi itu. Kuliner khas di sebuah warung di daerah Muntilan, yang jaraknya dari rumah saya di Yogyakarta sekira 45 menit. Kata teman saya, perjalanan tidak akan terasa lama karena pagi buta tidak banyak orang beraktifitas di jalanan. 

Pagi-pagi pukul 05.30 WIBB teman saya itu tiba di depan rumah dengan sedan biru kesayangannya, tanpa menunggu lama saya langsung berlari menuju pintu mobilnya. Menghindari basah dari rintik hujan yang tampak awet.

Teman saya itu sedang gemar sekali mengingatkan saya mengenai pentingnya bangun pagi dan menyibukkan diri sejak fajar menjelang. Untuk tidak ketinggalan shalat subuh berjamaah dan menutup hari dengan shalat isya berjamaah pula. Saya melihat bagaimana wajahnya cerah dan bahagia, mungkin ia memang benar menyerap energi alam yang tersebar di waktu-waktu shalat. Seperti pada saat shalat subuh misalnya, alam berada dalam spektrum warna biru (Ch-5) muda pada spektral 450-495 nm dan koordinat kompugrafik (Hex: #0000FF) (RGB: 0, 0, 255). Secara fisiologis, warna ini menyatu dengan frekuensi tiroid didaerah leher yang berpengaruh pada sistem pernafasan.

Konon rahasia spektral Ch-5 Subuh dan kehidupan manusia adalah berkaitan dengan rizki dan komunikasi. Mereka yang sering tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang kali karena tidur, maka lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Masalah komunikasi berhubungan dengan hambatan mental untuk mengkomunikasikan keinginan kepada lingkungan sekitar. Sedangkan masalah rizki berhubungan dengan kesulitan pada tahapan menemukan, membuka dan memproses peluang rizki. Hal Ini terjadi karena energi alam pada spektral Ch-5 tidak dapat diserap oleh tiroid. Disamping itu dalam studi “bioritmik” tubuh, kualitas “ether” dalam energi kosmik mencapai kadar “pure” dan maksimum pada waktu shubuh (antara jam 3 sampai jam 5 pagi). Energi ini menyatu dalam udara yang kita hirup saat bernafas secara “sadar”. Mereka yang terbiasa melewatkan waktu ini, akan kehilangan daya vitalitas untuk stamina dan semangat hidup. Berbeda dengan jam konvensional, siklus awal kehidupan biologis manusia tidak dimulai pada jam 24 melainkan pada jam 3 pagi.

Ada lagi spektrum selanjutnya yaitu pada saat shalat dzuhur. Spektrum alam berubah dari warna biru (Ch-5) menuju warna hijau (Ch-4) dengan spektrum 495-570 nm pada saat dhuha. Rahasia spektral ini berhubungan dengan proses pertumbuhan dan ketekunan. Seseorang yang melewatkan waktu ini, dia akan mengalami kesulitan untuk proses tumbuh kembang pada hubungan intrapersonal maupun interpersonal. Kemudian ketika adzan Dhuhur berkumandang, spektral warna hijau (Ch-4) bergerak menjadi warna kuning (Ch-3) dengan spektral 570-590 nm. Spektrum ini menyatu dengan frekuensi jantung berpengaruh pada sistem kardiovaskular. Spektral Ch-3 berkaitan dengan keceriaan dan kecerdasan. Jika seseorang sering melewatkan waktu ini, maka dia akan kesulitan untuk merasakan dan mengekspresikan kegembiraan serta melemahnya daya pikir dan memorik.

Ketika Ashar tiba, spektral alam akan berubah menjadi warna jingga (Ch-2) dengan spektral 590-620 nm. Spektral ini menyatu dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis mempengaruhi sistem reproduksi. Rahasia spektral Ch-2 adalah reproduksi dan kreativitas. Jika seseorang sering melewatkan waktu ini maka dia akan kesulitan berpikir kreatif dan dimungkinkan munculnya problem reproduksi.

Menjelang waktu Maghrib, spektral alam berubah ke warna merah (Ch-1) dengan spektral 620-750 nm. Di waktu ini kita sering dinasehati oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Hal ini terjadi karena spektrum merah Ch-1 beresonansi dengan frekuensi jin dan iblis artinya makhluk etherik ini mendapatkan tambahan “daya” dari energi Ch-1. Dan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan disarankan untuk istirahat sejenak atau berhati-hati karena banyaknya “interferens” yang mengelirukan mata kita. Jika seseorang sering melewatkan waktu ini, maka dirinya akan mudah mengalami ketidakstabilan emosi, motivasi dan keyakinan hidup.

Apabila waktu Isya telah tiba, maka spektral alam berubah ke warna indigo (CH-6) dengan spektral 420 – 450 nm dan selanjutnya memasuki fase Kegelapan. Waktu Isya ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem limbik dan hemisfer otak. Mereka yang sering ketinggalan Isya’nya maka dirinya akan selalu berada dalam kegelisahan. Selepas tengah malam, spektral mulai bersinar kembali dengan warna merah jambu dan selanjutnya warna ungu (CH-7) dengan spektral 380-420 nm, spektral ini menyatu dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus untuk memperkuat mata batin dan kehidupan spiritual.

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats