Thursday, 7 May 2015


Ban Bocor
Dalam perjalanan di suatu pagi yang cerah dengan jalanan kota yang belum terlalu ramai, ban roda kendaraan saya tiba-tiba terasa berat. Benar saja, ketika menepi dan cek visual ban tersebut kempes. Sobek di bagian sisi dalam.

Saya pun segera meletakkan segitiga pengaman sekitar 8 meter di belakang buritan, mengambil peralatan, dongkrak dan ban cadangan. Entah apa rencana Tuhan pagi itu.

Dongkrak sudah terpasang sempurna ban cadangan juga telah siap sedia berbaring di bawah kolong (meletakkan ban di kolong sekaligus menjadi pengaman jika dongkrak error), baut-baut juga sudah terlepas dengan baik. Namun roda berbalut ban bocor itu tak bisa dilepas. Benar-benar tidak bisa dilepas dengan kekuatan sendiri, “nyokot” kalau orang Jawa bilang.

Saya luncurkan “mae geri” tepat di tiap-tiap sisi roda, berharap roda tersebut oleng dan terlepas dari tempat duduknya. Benar-benar mengigit, mungkin akibat saya telat menyadari saat ban sudah bocor di perjalanan tadi.

Lalu tibalah keindahan sosial masyarakat kita, Indonesia. Seorang lelaki paruh baya mendatangi saya, bertanya sekedarnya lalu tanpa diminta ia serta merta membantu, mengambil alih pegangan saya dari roda. Melakukan hal yang sama: menendang sisi roda sembari menarik keluar roda itu dari tempat duduknya. Dalam hati saya bergumam,

“Tenaga saya tentu lebih kuat dari Bapak, namun semoga tehnik Bapak lebih baik”.

Lima menit melakukan aksinya, Si Bapak menyerah. Kekuatan dan tehniknya tidak mempan melawan gigitan besi bundar itu. Ia akhirnya lebih banyak memberi nasehat mengenai persiapan perjalanan dan tips agar ban roda lebih awet terjaga. Belum usai kami berbinang tetiba datang lagi seorang pemuda sekira usia 35 tahun dengan perawakan gempal dan bugar. Hal yang sama ia lakukan pada roda ban yang lagi sekarat itu. Namun nihil. Pemuda itu bergegas pergi tanpa pamit, saya agak merasa aneh. Bapak itu juga turut mundur teratur pamit dan berpesan,

“Teruslah menendang, siapa tau nanti lepas..”

Saya sedikit merasa sedih. Jikalau dengan bantuan mereka saja tidak bisa bagaimana mungkin saya sendirian bisa? Namun ada hal yang membuat saya lebih banyak merasa bahagia yaitu bahwa jiwa gotong royong, tenggang rasa, tolong menolong, tidaklah sepenuhnya luntur dari bumi pertiwi. Oke, saya kembali harus menghadapi gigitan besi itu sendiri.

Saya akhirnya kembali menyadarkan diri bahwa saya tidak pernah sendiri. Doa dalam tarikan nafas panjang saya panjatkan kepada Tuhan YME  sebelum meluncurkan 10 hingga 15 “mae geri” terkuat yang saya bisa. Namun masih nihil. Hingga tiba-tiba, sekali lagi, pemuda berbadan gempal bugar itu datang seperti Jaelangkung, mengagetkan tiba-tiba “njedhul” di dari belakang saya.

“Pakai ini Mas!”

Sang Pemuda menyodorkan 1 buah dongkrak hidrolik. Lalu dengan inisiatifnya meletakkan dongkrak tersebut secara horizontal antara bagian dalam sisi roda dengan bagian keras pada bagian dalam fender. Saya sempat ragu pada kendaraan tua itu, jangan-jangan bagian dalam fendernya sudah rapuh dimakan usia. Bismillah..

“Susah sekali Mas, dongkrak saja tidak mempan!” ujar pemuda itu.

“Oke coba saya bantu mas, posisinya di balik dan gunakan obeng untuk memutar pengungkitnya”

“Obeng saya di sana, jauh”

“Ini saya ada obeng, gunakan obeng saya” jawab saya sigap.

Akhirnya, setelah beberapa kali percobaan yang ulet roda sekarat tersebut lepas juga dari tempat duduknya. BINGO!! Buru-buru saya mendekatkan ban cadangan yang siap sedari tadi ke bibir fender, disambut pemuda itu yang sigap memasangnya sekaligus menguncinya dengan baut roda hingga kuat. Roda cadangan terpasang sempurna. Saya sudah bisa melanjutkan perjalanan.

Saya mengucapkan terimakasih kepada pemuda tersebut namun ia hanya melambaikan tangan dan buru-buru kembali ke arah gedung berwarna putih yang setahu saya adalah toko komputer. Saya belum sempat menanyakan namanya! Saya niatkan suatu saat akan parkir di area itu lagi siapa tau dapat bertemu.

Setelah merapihkan peralatan dan mengelap tangan dengan “kanebo” lembab yang selalu saya bawa di bagasi, kendaraan saya bawa laju pelan-pelan. Namun baru 200 meter dari lokasi bocor tadi, terjadi lagi: ban roda kendaraan saya tiba-tiba terasa berat. Ketika menepi dan cek visual saya dapati ban cadangan yang sudah terpasang tadi sudah dalam keadaan kempes. Kali ini sepertinya bocor atau terkena benda tajam.

“Ya Allah..” intonasi saya mengandung kekecewaan sekaligus protes kepada-Nya.

Sebagai orang yang meyakini bahwa setitik debu terbang di angkasa adalah atas kuasa-Nya, maka saya melihat kejadian pagi itu bukanlah kebetulan. Jadi 10 menit pertama saya tidak melakukan langkah apa-apa selain duduk menenangkan diri di bawah pohon di tepi jalan. Merenungi situasi.
Situasi “pensive” itu berlaku bagi hati untuk meresapi makna kejadian dan berlaku bagi otak untuk melakukan analisis langkah strategis paling strategis yang bisa dilakukan sebagai solusi. Dari mulai menelpon teman, tukang ban, cari ojek, panggil taxi hingga sekedar duduk termenung. Saya memilih duduk termenung. Menatap jalanan yang beranjak ramai.

Setelah lebih merasa teduh dan dapat berdamai dengan situasi, saya putuskan mengganti ban yang sobek tadi dengan ban baru. Akan saya bawa dengan taxi ke toko ban terdekat dan kembali ke lokasi dengan kepastian bahwa setelah saya pasang nanti tidak akan bocor lagi.

Jempol saya acungkan setiapada taxi yang lewat. Lima hingga 8 unit taxi yang lewat tidak ada satupun yang menepi menyambut panggilan jempol saya. Saya coba berdiri saja bersandar pada tiang listrik yang mulai karatan. Menunduk, melihat telepon genggam saya sudah kehabisan baterai. Dari arah berlawanan menuju toko ban, sebuah taxi memutar balik saya pikir ada penumpang yang hendak turun namun ternyata tidak. Seorang sopir taxi berusia 50-an membuka jendela kiri mobilnya yang mendekati saya.

“Ada yang bisa saya bantu Pak?” ujar sopir taxi itu dengan tersenyum.

“Oh, iya Pak. Bisa mengantar saya ke toko ban terdekat?”

“Monggo, saya antarkan”

Demikianlah saya dan sopir taxi yang ramah itu sudah dalam perjalanan menuju toko ban terdekat. Kami berbincang dalam bahasa jawa halus, sesekali saya gunakan bahasa Indonesia karena ketidakpahaman saya akan kosakata yang tepat. Berbicara dari hal ringan sampai tidak terlalu ringan, tertawa dan cengegesan bersama. Hehe

“Bapak berkenan menunggu, untuk nanti kembali mengantar saya ke lokasi tadi?”, tanya saya ketika taxi sudah sampai tujuan.

“Oh iya, monggo silahkan saya tunggu”

Saya turun dari taxi menuju toko ban tersebut. Disambut oleh dua wanita usia 30-an yang sedang mengepel lantai. Melihat tamu datang mereka tersenyum ramah.

“Sudah buka Mbak?”

“Oh sudah Mas, silahkan”

“Saya mau beli ban Mbak untuk mengganti ban yang rusak di roda saya” ujar saya sembari menunjuk ke taxi.

Ternyata sopir taxi tadi sudah berinisiatif mengeluarkan roda sekarat dari bagasi taxi dan menggulungnya ke dekat tumpukan ban dagangan.

“Baik kita cek dulu ban-nya Mas” jawab salah seorang wanita yang lebih cerah senyumnya itu.

Tidak sampai lima menit menunggu wanita itu kembali dan menyodorkan katalog.

“Mohon maaf Mas, spesifikasi ban seperti ini kami tidak punya. Sulit mencari spesifikasi yang sama dengan merk ban ini. Kami memiliki spesifikasi yang sama tapi dengan merk berbeda. Harganya tidak terpaut jauh”

“Baiklah, saya beli satu”

Sekitar 15 menit kemudian ban baru itu sudah menempel di velg M3 GTS hitam, menggantikan ban lama yang tampak usang di bagian dalamnya namun masih terlihat tebal dan bergaris kuat di luarnya. Sopir taxi yang dari tadi menunggu saya berinisiatif membawakan roda baru itu ke bagasi taxi.

Saya sendiri lalu menuju meja kasir dan bertanya, berapa biayanya. Rpanya biaya adalah Rp 1.600.000, dan saat saya melihat isi tas saya hanya ada uang Rp 1.200.000; Dompet saya tertinggal di mobil, yang saya parkir di pinggir jalan tadi!!

“Maaf Mbak, bagaimana jika saya tinggalkan KTP atau Handphone atau barang berharga lainnya di sini sebagai jaminan bahwa saya akan kembali lagi kesini untuk melunasi tagihan?”

“Hm, saya rasa tidak perlu Mas. Dibawa saja, kami percaya nanti pasti kembali lagi kesini”

“Serius?”

“Ya kami serius”

Bergegas saya menuju taxi memberi kode kepada sopir taxi untuk segera meluncur ke tempat dimana saya memarkir mobil saya. Sesampainya di lokasi, saya lihat argometer menunjukan charge sebesar Rp 55.000; sementara uang di tas dan disaku saya sudah bersih ludes di toko ban tadi. Saya berharap semoga ada cash di dompet, atau bila perlu nanti mampir dulu ke gerai ATM.

“Pak sebentar saya ambil uang untuk bayar taxi”

“Baik Mas”

Wow!! Ternyata uang di dompet saya hanya ada Rp 42.000; sudah dengan koin-koin receh yang ada di dashboard. Say asegera menghampiri sopir taxi.

“Pak uang saya kurang, apakah Bapak bersedia menunggu nanti saya ke gerai ATM dahulu untuk mengambil uang. Atau saya minta nomor HP Bapak untuk saya isi pulsa sebagai pengganti kekurangan tagihan taxi?”

“Tidak usah Mas, serius. Silahkan ditinggalkan saja tagihannya.” Sopir taxi itu tersenyum sangat ramah.

“Serius?”

“Saestu, mboten nopo-nopo! (serius, tidak apa-apa –bahasa jawa)”

Akhirnya saya hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada sopir taxi itu. Lalu kembali berkutat dengan mobil dan ban baru yang siap dipasang. Setelah mengerahkan sedikit waktu dan tenaga, ban baru sudah terpasang dan saya pun bergegas melanjutkan perjalanan. Pertama-tama menuju toko ban untuk membayar tagihan. Lalu buru-buru menuju ke kantor, karena sudah sangat terlambat dari jadwal masuk kantor.

Sepanjang perjalanan saya merasa seperti mendapat cubitan sekaligus usapan lembut di pipi. Di satu sisi mendapat cobaan ban bocor di tengah jalan namun di saat yang sama mendapat pertolongan dan kemurahan hati dari sopir taxi dan kasir di toko ban.

Sesampainya di kantor, tetangga saya di Jogja Bapak Madde, seorang asli Bali yang sudah sangat fasih berbicara Jawa, sudah duduk menunggu di depan meja saya. Saya mengucapkan selamat datang dan permintaan maaf atas keterlambatan. Ia sudah menunggu 15 menit untuk konsultasi perihal importasi mesin pelet pakan ikan. Koperasi tempat temannya bekerja mendapat hibah dari China untuk pengembangan industri kecil dan menengah. Oh Tuhan, indah sekali pagi itu. Saya belum sarapan!

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats