Thursday, 21 May 2015

Perang Melawan Islam?
Memerangi Islam? Kenapa? Bukankah sudah banyak kejadian di Timur Tengah yang bisa membuka mata kita bahwa konflik agama dan peperangn tergadap Islam tidak lain hanyalah permaianan para penjahat kemanusiaan yang menumpang sentimen agama sebagai kendaraan memperebutkan sumber daya?
Saya sungguh sedih melihat pertumpahan darah terjadi karena sentimen agama. Mencoba untuk memahami konflik di Burma misalnya, otak dan hati saya tidak habis pikir bagaimana mungkin manusia (bahkan anak-anak) dimusnahkan karena sentimen agama.
Saya rasa memang benar bahwa ada bisnis ketakutan dan kebencian yang diinvestasikan pihak-pihak tertentu ke dalam tatanan interaksi umat beragama di dunia. Agar agama tampak seperti penyakit!!
Menyoroti konflik di Burma, kampanye seorang biksu untuk memboikot usaha dan bisnis umat muslim di Burma tercatat sejarah sebagai apa yang disebut benih-benih apartheid. Lebih jauh tentangnya, sangat jelas bahwa ada kekhawatiran terhadap 30% penduduk muslim di Burma yang mengalami pertumbuhan pesat secara jumlah maupun dominasi di sektor ekonomi. Paranoia? saya masih perlu waktu untuk mencernanya. Tapi yang sudah jelas-jelas saya lihat adalah kembali munculnya fenomena ketakutan dan kebencian terhadap Islam. Lagi-lagi, Islam dimusuhi karena dianggap mengancam.
Saya dilahirkan & dibesarkan di negara dengan penduduk Islam terbesar, Indonesia, merasa perlu turut bersuara. Karena manusia cenderung membenci bahkan takut pada apa yang tidak ia ketahui maka perkenankan saya ceritakan kembali sejarah yang bisa menunjukkan wajah Islam kepada Anda. Wajah yang tercermin dari penguasa negeri Islam yang setia menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam, kaidah yang  menjunjung tinggi hak asasi manusia dan toleransi.
Pasca Kegemilangan Islam
Sejarah mencatat bahwa Peradaban Islam pernah mencapai masa kegemilangan hingga melahirkan cendekiawan-cendekiawan dengan capaian luar biasa. Namun ada pula masa senja di saat kekuatan Islam dirongrong dan akhirnya perlahan mundur. Termasuk pelepasan pengaruh di tanah Eropa.
Adalah penyerahan kunci Istana Al-Hamra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Isabella pada 2 January 1492 M yang menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol. Namun berakhirnya kekuasaan islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu. Sejarah terus mencatat, penyerahan kekuasaan justru menjadi awal  sejarah kelam kaum muslimin disana.
Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin rupanya tidak berumur panjang. Pada tahun 1502 umat islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama islam sama artinya dengan bunuh diri. Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara dzohir, namun tetap menjalankan ajaran islam dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum Moriscos.
Rupanya pemerintah Spanyol menyadari adanya ketidak tulusan kaum Moriscos terhadap iman Kristen, akibatnya mereka mengalami penyiksaan dan inkuisisi (baca: pembantaian) yang hebat. Keberadaan mereka juga dianggap sebagai ancaman internal yang berbahaya. Sehingga antara tahun 1508-1567 keluar sejumlah peraturan yang melarang segala hal yang bernuasa islam, baik pakaian maupun nama. Penggunaan bahasa arab juga dirarang. Anak-anak kaum muslimin dipaksa untuk menerima pendidikan dari para pendeta Kristen. Puncaknya pada tahun 1609-1614 sebanyak 300.000 Moriscos diusir dari Spanyol oleh Raja Philip III. Benar-benar kenyataan sejarah yang pahit dan menyedihkan.
Raja Yang Teguh Pada Islam Sesungguhnya
Dari Spanyol mari kita pindah ke belahan bumi yang lain, tepatnya di Turki tempat dimana kekhalifaan Ottoman berpusat. Sebuah pemerintahan yang masih memiliki sinar gemilang dan memiliki kedaulatan yang kuat.
Setelah mendengar penyiksaan yang dilakukan penguasa Spanyol terhadap kaum muslimin, Sultan Salim I marah besar, dia mengeluarkan dekrit yang berisi perintah kepada seluruh penganut Yahudi dan Nasrani yang tinggal didaerah kekuasaannya untuk memilih satu dari dua opsi, tinggal menetap dengan catatan memeluk agama Islam, atau pergi meninggalkan Tanah kekhalifaan. Mendengar dekrit tersebut, Syaikh Ali Afandi At- Tirnabily selaku Mufti Ottoman saat itu menyampaikan penolakannya terhadap dekrit sang Sultan. Mufti menjelaskan bahwa dekrit tersebut tidak boleh dilaksanan sekalipun kaum muslimin disembelih di negeri-negeri Salib. Mufti juga menjelaskan bahwa selamanya tidak ada paksaan dalam beragama.
Akhirnya Sultan Salim menarik keputusannya dan membiarkan penganut Yahudi dan Nashrani tinggal dengan aman dan damai dibawah pemerintahannya. Iya, mereka semua dibiarkan tinggal dengan aman dan damai disaat pemerintah Spanyol menyembelih ratusan ribu kaum muslimin di negaranya.
Sikap Sultan Salim yang tunduk pada rambu-rambu keislaman sudah cukup sebagai jawaban bahwa islam bukan agama teroris, namun sebagai rahmatan lil alamin. Dimanapun Islam berkuasa, dia akan menjadi pengayom bagi semua. Andai Islam intoleran seperti yang dituduhkan, tentu tidak akan ada satu Yahudi atau satu Kristenpun yang tersisa di tanah Andalus, Turky, Mesir, Lebanon, Jordan dan sejumlah negara lainnya saat islam berkuasa disana.
Karena sesungguhnya tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Dan hal itu tertulis jelas dalam kitab suci kaum muslim, Al-Quran.
Namun mari kita lihat, bagaimana situasi di Burma. Terlepas dari isu dan kampanye yang didengungkan oleh para aktivis garis keras Buddha di sana, apakah dibenarkan kekhawatiran dak ketakutan menjadi dasar perampasan hak asasi manusia? Bahkan hingga hak paling dasarnya, yaitu hidup?
Ada negara dimana dominasi umat beragama tertentu tidak diskriminatif terhadap minoritas, namun ada pula yang sebaliknya. Biarlah sejarah berbicara. Semoga seluruh umat beragama saling intorpeksi diri.

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats