Wednesday, 10 June 2015

Britpop memiliki  nuansa musik yang unik
Sudah sejak sebulan yang lalu dalam suatu kesempatan makan siang saya menantang seorang teman, sebut saja namanya Bo-Jalen atau juga memiliki alias lain yaitu Jembun DJ dan benar-benar tidak bisa saya sebutkan nama aslinya di sini untuk alasan keamanan (haha, lebay), untuk membuat satu lagu dengan genre britpop. Ia adalah seorang kolega di kantor yang saya nilai cukup konsisten dalam bermusik –untuk kepuasan dan kebahagiaan, bukan untuk tujuan komersil.
Melihat konsistensinya saya hanya bisa menerawang masa lalu saya sendiri dalam bayang-bayang seragam SMA ketika kegiatan bermusik adalah sesuatu yang saya kira akan menjadi pegangan hidup. Sebelum “semua” itu terjadi (cie..).
Oke, saya tidak akan bercerita panjang mengenai kisah band semasa SMA. Kembali pada tantangan saya ke Bo Jalen untuk satu lagu khusus bergenre britpop. Tanpa memberikan penjelasan mengenai apa, dan bagaimana lagu itu harus dibuat dari raut wajahnya Bo-Jalen tampak telah memiliki intepretasinya sendiri. Dan sebenarnya saya yakin, sebelum saya ajukan tantangan semacam itu ia sudah memiliki stock idea mengenai bagaimana lagu itu akan dibuat.
Sebulan berlalu dan tibalah saat dimana teman saya yang sayang istri itu memberikan link video di youtube berisi lagu terbarunya. Dibuat sesuai permintaan penggemar, seperti tertulis dalam captionnya: mencoba lagu bergenre britpop. Wah, bagaimana hasilnya ya?
Belum kompor gas, tapi keren dan oke juga lah! Sejak pertama saya putar lagu itu, arah dan tujuan akhir dari manuver nada-nada yang disajikan samar-samar langsung dapat saya duga. Ini salah satu ciri-ciri genre britpop yang lazim merebak di Indonesia, easy dan familiar. Saya seringmenyebutnya: gitu-gitu aja. Banyak lagu akhirnya tidak saja easy listening tapi juga sampai pada level easy come easy go. Tidak membekas karena mainstream dan umum. Maka mendengarkan  lagu dari Bo-Jalen berjudul “Setelah Kepergianmu” tak salah jika bawah sadar kita langsung mengingat band-band sejuta umat seperti Peterpan, Noah, Titan, D’Massive dan sejenisnya –tidak termasuk Kufaku.

Lalu harus bagaimana membuat lagu bergenre britpop? Entahlah, tidak ada jawaban pasti dalam hal ini seperti layaknya pertanyaan aljabar. Karena ini adalah seni. Bahkan jika ada aturan baku sekalipun, yakinlah dalam dunia seni aturan itu ada hanya untuk dipatahkan. Tapi saya pribadi memiliki anggapan tersendiri tentang bagaimana lagu itu seharusnya hadir di playlist dengan predikat: Britpop.

Britpop, Akar dan Pengaruhnya.

Sejak kecil saya sering mendengar lagu-lagu lawas di radio, di kaset-kaset dan cakram milik orang tua mulai dari Koes Plus, The Mercys, The Rollies, Panbers, Bee Gess, ABBA, The Beatles dll, bahkan Soendari Soektojo pun saya lahap. Maksudnya adalah, pada saat saya memasuki usia SMP ketika bersekongkol bersama teman-teman untuk membuat band, saya adalah yang paling kuper akan lagu-lagu terbaru masa itu. Saya hanya mengerti lagu jadul. Sejarah telinga saya itu rupanya menuntun saya pada genre musik favorit saya pada masa-masa SMA hingga saya menikah, yaitu Britpop. –sedangkan saya saat ini entahlah, semua musik terasa sama.
Britpop generasi 90-an

Band beraliran britpop banyak dipengaruhi oleh musik-musik dengan dominasi gitar dari komposisi lagu-lagu lawas. Khususnya lagu dari band beraliran british invasion, glam rock dan punk rock, bernuansa psycehdelic. Munculnya band-band rock indie pada era 80-an hingga awal 90-an bisa dikatakan adalah pelopor musik britpop. Pengaruh band lawas The Smiths sangat umum menjadi acuan dan sumber inspirasi kebanyakan band britpop masa itu. Sebagai contoh jika kita dengarkan karya-karya band britpop seperti Blur dan Oasis, kentara sekali pengaruh dari  The Kinks dan The Beatles.

Dua nama terakhir di atas adalah contoh generasi pertama band-band beraliran britpop. Dalam jajaran yang sama kita mengenal Stone Rosse, Sex Pistols, The Who, David Bowie, Madness, Happy Monday dll. Dan dari sekian banyak band beraliran britpop masa berikutnya seperti Oasis, Blur, Supergrass, The Verve, Pulp, Muse, saya memiliki band favorit yaitu  Coldplay. Di Indonesia ada satu band yang sejak kemunculan pertamanya langsung mengingatkan saya pada Coldplay yaitu Nidji.
Coldplay


Mereka semua, band britpop, memiliki satu titik persamaan rasa yaitu kesan aransemen yang familiar dan nada-nada unik dari musik lawas. Oleh karenanya telinga kita seakan-akan mengenalnya akrab, tapi sebenarnya tidak sedemikian akrab karena yang disajikan seringkali adalah hal baru. Letak keunikannya ada pada cara mereka menyajikannya lagu yang seakan-akan akrab itu dalam komposisi yang tidak biasa. Atau bahkan terkadang sengaja diciptakan secara hard listening atau Anda perlu memutarnya 5-6 kali dan baru dapat menikmatinya –dengan otak yang telah terjerumus dan dipaksa masuk ke dalam alunan musik mereka.

Ciri Khas

Band britpop secara mudah dapat kita kenali dari kolektifitas permainan alat musik daripada sekedar berfokus pada vokal. Instrumen yang lazim digunakan antara lain drum, bass, gitar dan piano didukung seorang lead vocal. Mereka menulis lagu-lagu mereka sendiri dengan rasa dan ciri khas masing-masing, merekamnya di studio-studio menengah dengan pengucapan lirik yang aksentual. Dan kebiasaan dalam berpakaian bodyfit juga memberikan ciri khas tersendiri mengenai fashion style artis britpop pada masa itu.

Gitar, isntrumen ini manjadi ciri yang jelas dari komposisi lagu-lagu britpop. Tehnik yang sering digunakan antara lain Palm muting, String Skipping, atau Hammer-Ons, memegang fret gitar untuk sementara sementara jari sedikit memukul (menepuk) senar sehingga memberikan efek ketukan.

Namun yang lebih dari sekedar tehnik adalah nuansa yang dimunculkan. Gitar dalam musik britpop jarang sekali diberikan porsi untuk tampil solo sebagai objek spotlight seperti Slash ketika menggawangi Guns n Roses. Lebih ke harmonisasi dan detail-detail suara unik nan cantik sebagai pemanis lagu. Seringkali gitar hanya menjadi chord sederhana dalam bentuk pengulangan, namun dari pengulangan sederhana itu bisa menjadi pembuka lagu yang legendaris seperti “Wonderwall” milik Oasis. Di sisi lain, chord juga dipermainkan sedemikian rupa dalam manuver-manuver tidak terduga seperti lagu-lagu miliki Blurr. (itu salah satu ciri khas mereka- dan banyak ditiru)
Aliran musik dan teman-temannya

Gaya penuturan lagu melalui lirik yang bermakna dan berkaitan erat dengan kehidupan remaja sesungguhnya juga menjadi pembeda dari musik yang booming sebelumnya seperti grunge, yang dianggap tidak memiliki kejelasan makna dalam lirik-liriknya. Namun bagi saya pribadi, Nirvana adalah pengecualian, ia memiliki sedikit jiwa britpop. Saya melihat bahwa gerakan britpop ini seperti gerakannya orang-orang Inggris yang bangga untuk menjadi diri sendiri, tidak mengikuti gegap gempita musik yang ada di Amerika Serikat pada masa itu.

Jika Anda perhatikan Coldplay, britpop band pada masa kini, lirik-liriknya terdengar melankolis dengan irama yang teratur, puitis, romantis dalam hal-hal sepele sekalipun namun tetap lugas. Ada makna yang disajikan seperti sedang mengajak Anda berbincang-bincang. Saya ingat pada saat pertama kali mendenger “Yellow” di awal 2000-an, saya tidak mengerti apa-apa maksud dari kata-kata yang diucapkan Chris Martin kecuali bahwa saya menyukai komposisi musiknya, dan lirik-lirik gombal level awang-awang dengan pengucapan mirip aksen James Bond penuh keteraturan rima.

Coldplay saat itu benar-benar menunjukkan ke-britpop-an sebuah lagu melalui penggunaan instrumen asli (bukan synthetizer), dengan urutan chord yang teratur dan berulang. Nada dalam lagunya terdengar simpel dengan struktur lagu yang umum –tidak neko-neko. Dan vokal yang khas serta tentus aja aksen, british abeess....

The Next level

Midnight, single terbaru Coldplay.
Jika pandangan saya akan britpop pada awalnya adalah tentang musik yang familiar dan seakan-akan mudah didengar, maka perkembangan musik dari band-band yang dikenal sebagai britpop legend membuat saya melakukan kalibrasi ulang megenai apa itu britpop. Karena faktanya saat ini musik-musik mereka sudah lebih jauh dari itu. Bayangkan saja sebagai penggemar Radiohead dengan lagu-lagunya yang cukup enak didengar tiba-tiba saya dipaksa melotot pada albumnya ”Kid A”. Atau seperti evolusi lagu-lagu Coldplay dari semacam “Shiver” dan “Scientist” kita dipaksa menerima bahwa lagu semacam “Midnight” atau “Magic” itu lahir dari band britpop?!!


Apa mereka keluar dari jalur britpop?

Saya rasa tidak. Mereka justru sedang membawa britpop pada level yang berikutnya. Saya tidak bisa mengatakan “higher level” tapi sekedar “next level”. Jadi kalau boleh saya bilang, band-band legendaris dari tanah britania raya itu seperti cheff yang menyajikan daging kambing dalam masakan lezat. Jika sekedar dibuat sate kambing, ya kita pasti paham itu adalah britpop. Tapi mereka dengan kreatifitasnya mampu menyajikan daging kambing dalam sajian istimewa yang bahkan perlu 5-6 suap untuk menyelami rasa dari setiap sudut lidah kita, mencari-cari dimana letak daging kambingnya tanpa kehilangan rasa bahwa itu adalah masakan yang dibuat dari daging kambing.

Sementara, band-band besar nan terkenal di Indonesia yang mengaku terpengaruh dunia britpop masih saja  gitu-gitu aja. Akhirnya dari keterpengaruhannya mereka, terpengaruh pula-lah teman saya Bo-Jalen, musisi non profit yang puas dan bahagia dalam bermusik itu, sehingga ia juga mengintepretasikan britpop sebagai ......gulai kambing. Namun tetap saja itu masakan yang lezat dan saya mengapresiasi setinggi-tingginya pada kreatifitas yang dia tunjukkan.
Ah, sepertinya setelah menyantap gulai kambing saya perlu kembali makan sate kambing. (mendengarkan The Beatles;red) –paten rasanya!

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats