Friday, 5 June 2015


Olahraga bisa menyenangkan.
Hal yang paling pokok dari kegiatan berolahraga adalah beroleh kesehatan. Sebagian orang mengatakan bahwa olahraga paling bener adalah olahraga yang minim cedera, seperti catur dan bridge. Sayangnya dalam dunia saya, olahraga semacam itu bukanlah olahraga melainkan sesuatu yang membuat saya “Oalah ra dong (jawa)”, alias, saya tidak mengerti dan tidak paham.

Bagi sebagian orang lagi, olahraga adalah hal duniawi yang berbau keringat. Semakin berkeringat itu semakin bagus dan semakin bisa disebut olahraga yang memuaskan. Tidak sedikit yang  mengartikannya sebagai berlari di siang hari menggunakan jaket berbahan polyurethane. Sebenarnya jika hanya ingin mencari keringat, paling greget adalah beraktifitas di kamar sauna dengan membawa serta 1 set home fitness. Anda diam saja sudah berkeringat, apalagi jika melakukan sekian set latihan. Tidak hanya keringat namun saya jamin onderdil dalam tubuh Anda akan exhausted. Dan saat Anda keluar dari sana, masih akan mengepul uap dari ubun-ubun.

Saya kira ada beragam konsep yang diminati orang-orang terkait kegiatan berolahraga. Anda juga pastinya punya mental-image tersendiri tentang apa itu olahraga. Ada makna yang bisa Anda tangkap dari kegiatan olahraga ini berdasarkan ciri-ciri umum yang Anda rasakan dari olahraga. Sekarang kita tidak akan bicara teori dasar yang bertele-tele seperti diajarkan di kuliah-kuliah pendidik olahraga. Cukup dipahami bahwa ada konsep olahraga yang dipandang universal  tapi ada juga sisi lain: subjektifitas orang untuk memilih konsep yang ia pandang sesuai.

Bagi saya, konsep olahraga yang mengena di hati adalah bermain. Jika Anda sepakat, maka kita semua telah berolahraga sejak balita. Anak-anak pada umumnya tidak pernah bisa berhenti berlari di dalam rumah, kejar-kejaran dengan saudaranya (dengan ayam atau atau kucing, jika tidak ada saudara). Bermain perang-perangan, lempar bola sampai bungee jumping di atas kasur itu sudah biasa. Saat makan malam di restoran mereka bisa tiba-tiba hilang dari kursi dan kedapatan sedang bermain petak umpet, melakukan sedikit parkour di sofa dan kolong meja. Hingga ada ungkapan “there’s no dinner with kidos” (tapi tetap saja di kesempatan berikutnya para orang tua mengajak anak-anaknya kembali).

Hingga beranjak dewasa, anak-anak yang ceria pada masa lalu mulai memperkaya dan melakukan perubahan pada cara  bermain. Mereka memasukan unsur pemuasan ego dan kompetisi dalam permainan. Hingga dari  inovasi dan kreasi mereka munculah bentuk olahraga gulat, angkat beban, hingga olahraga modern seperti sepakbola, bola basket, kricket dst. Mereka pada awalnya hanyalah anak-anak yang bermain, anak-anak yang menggerakan badannya. Anak-anak itu berolahraga. Mereka melakukan sebuah kegiatan fisik (tubuh manusia) yang berdampak terhadap diri, jiwa dan raga. Dan tahukan Anda siapa yang menggerakan fisik? Ya, sisi dalam kita: akal, jiwa beserta teman-temannya. Mensana in corpore sano , di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, menjadi make sense.

Akhirnya kita jadi bertanya, antara olahraga dan bermain siapa yang lebih tua? Ibarat mereka adalah telor dan ayam, siapa yang lebih dahulu diciptakan sering menjadi perdebatan. Bagi saya, mereka adalah sama tuanya. Tapi apapun jawaban Anda, kita pantas bersyukur bahwa Sang Pencipta tidak saja memahat badan wadag kita secara sempurna tapi juga disertai dengan built in program pemeliharaan kesehatan dalam platform yang unik, yaitu bermain. Dan karena itulah sejak anak-anak kita senang bermain. Saya kemduain menarik pandangan pada kegiatan olahraga saya dan orang-orang di sekitar selama ini. Sepertinya memang semua adalah soal permainan. Mulai dari olahraga tepok bola tepok bulu, bela diri, sepakbola, futsal, bola basket, renang, lari, sepeda, catur dll.

Fenomena kegiatan berolahraga pada orang-orang usia produktif yang rentan stress akibat rutinitas pekerjaan dan kekurangan bermain sangat cocok jika dikembalikan pada pengertian harfiah olahraga (sport). Asal kata latin disportore  memiliki arti dis (terpisah) dan portore (membawa). Yang mana pengertiannya adalah membawa diri terpisah dari gangguan. Dan kegiatan olahraga saya dan juga Anda saat ini, di dunia modern yang ketat ini, percayalah itu bukan semata-mata agar beroleh kesehatan. Tapi juga pelarian diri agar terpisah dari gangguan stress akibat rutinitas pekerjaan. Bonusnya? Kita bisa lari dari gangguan sakit. Olah raga itu bermain melarikan diri? kejar-kejaran? Seperti anak-anak saja ya. Hehe.. Ayo Olahraga! eh, Bermain!

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats