Wednesday, 24 June 2015

Era digital sudah tidak dapat dibendung. Pola lama dari orang tua kita dalam mengasuh anak pun kian sulit diterapkan secara utuh untuk anak kita saat ini. Bukan berarti pola asuh orang tua kita usang,  hanya perlu diupdate lebih canggih mengikuti situasi. Kita tetap perlu mempertahankan hal-hal baik yang telah diberikan Ayah dan Ibu kita di masa lalu. Nilai-nilai positif, kebijaksanaan, religiusitas, etos, dan kultur yang menjadi warisan keluarga. Namun di era modern, pendekatan pola asuh terhadap anak-anak abad 21 ini dituntut untuk berubah. Karena selain lingkungan yang berubah, struktur otak mereka juga berubah dan berbeda dengan kita.

Seoarang ahli dan peneliti otak manusia, Bruce D. Berry M.D, Ph.D, berujar "different kind of experience lead to different brain structure". Pengalaman yang berbeda menuntun pada struktur otak yang berbeda pula. Pengalaman anak-anak abad 21 yang penuh dengan hal-hal baru dari berbagai dimensi (teknologi, budaya, nilai) tidak akan pernah kita alami di masa lalu. Waktu tidak berjalan mundur. Pengalaman yang berbeda itu menghasilkan pola pikir dan struktur yang berbeda pada otak. Contoh representasi perbedaan struktur otak tersebut misalnya pada cara melakukan aktifitas. Orang tua zaman dahulu terbiasa untuk melakukan kegiatan secara berurutan. Sementara anak-anak masa kini terbiasa melakukan hal secara multitasking, berfikir dan fokus secara paralel.

Mengetik presentasi di laptop disertai alunan musik dari headset, makan pop corn, memegang smartphone untuk chatting, dan sekaligus menonton televisi, terlihat sepele dan umum dilakukan anak abad 21. Tapi sekali lagi itu bisa menjadi hal yang sulit dilakukan oleh orang tua kita. Bisa jadi untuk memperagakan aktifitas semacam itu oran tua zaman dahulu hanya berkerut dahi. "Apa kamu sedang tidak waras?". Dan sebaliknya, berfokus pada satu hal dengan kerangka fikir divergen mungkin sulit untuk dilakukan anak-anak abad 21. Bukan karena tidak bisa, namun kecenderungan mereka yang menyukai hal instan, tidak suka berlama-lama, dan ingin segera memperoleh hasil atau tujuan membuat hal semacam itu tampak usang.

Perubahan Komunikasi
Abad 21 memungkinkan orang untuk berbicara tanpa terkendala jarak. Sebuah kelompok belajar dapat berdiskusi untuk pekerjaan rumah dari kamar mereka masing-masing. Perubahan situasi ini seyogyanya menyadarkan kita bahwa anak-anak masa kini  memerlukan komunikasi yang efektif, tidak bertele-tele namun tetap akrab.

Hal paling mudah untuk menjalin komunikasi dengan anak abad 21 adalah dengan diskusi, bicara dari hati ke hati. Atau dengan cara orang tua menyelami dunia warna-warni anak-anaknya sehingga terjadi kesetaraan komunikasi dan bukan lagi menggunakan jalur komunikasi top-down yang isntruktif dan terkesan otoriter. Kata-kata kunci seperti: "Pokoknya..", "Dengarkan..", "Ayah tidak mau tahu..", "Kamu harus.." dsb, hanya akan menjadi sinyal bahaya bagi anak dan karenanya anak menjadi defensif, pesan menjadi tidak tersampaikan dengan baik.

Berbeda dengan apa yang terjadi pada anak-anak era 70'/80'/90'an. Pola asuh kebanyakan orang tua pada masa lalu justru lebih instruktif walau dengan kadar  yang beragam tergantung latar belakang keluarga. Tapi mereka tidak terlalu buruk, mereka membentuk kita yang pada akhirnya terbentuklah anak-anak kita. Ya itulah fakta hari ini, bahwa memang ada perubahan mendasar yang terjadi pada tiga generasi: orang tua kita, kita sendiri dan anak-anak kita. Hal ini perlu disadari dan diterima secara damai.

Pengaruh pada Moralitas
Penelitian terkait moralitas yang gencar dilakukan sejak taun 90-an, mengikuti munculnya gebrakan dunia teknologi dengan kemunculan alat komunikasi selular dan internet, telah menyadarkan kita bahwa dunia berubah secara radikal. Saat ini ribuan informasi dapat diterima dalam sekejap mata. Arus kultur merambah menembus batas jarak dan waktu. Jendela-jendela pengetahuan, yang baik dan yang buruk, semua terbuka lebar dan dengan mudah diakses siapa saja. Mesin pencari seperti google, bing, yahoo dan social media sebagai inovasi terkini turut merubah cara hidup generasi abad 21. Dan berdasarkan penelitian pengaruh lingkungan di abad 21 akan menjadi sangat signifikan pada pembentukan moral generasi penerus kita khsusunya saat mereka menginjak usia 19-22 tahun. Masa yang bisa dibilang rawan dan penuh resiko.

Hadirnya gadget yang mengalami revolusi sedemikian hebat turut berpengaruh. Kita lihat bagaimana sketsa sebuah keluarga dalam satu makan malam dapat kehilangan momen intim untuk berbincang-bincang justru masing-masing asyik menggunakan gadget-nya. Gagap teknologi juga sering terjadi pada keluarga yang terlalu membiarkan dirinya terekspos perubahan tanpa filter yang jelas. Era digital yang radikal menjadi pisau bermata dua di satu sisi membawa manfaat bagi peradaban di sisi lain juga berpotensi menghancurkan peradaban jika tidak bijaksana.

Bagi keluarga yang sudah terbiasa melakukan pola asuh secara terbuka sejak lama, era digital yang radikal tadi  tidak akan terlalu menjadi masalah. Moderasi orang tua terkait input dan pembatasan lingkungan serta diskusi terbuka antar anggota keluarga akan sangat membantu dalam menghadapinya. Namun bagi keluarga yang konservatif, agaknya hal ini perlu dipertimbangkan:

"be straight to your principle, be flexible to your method"

Kita tetap dapat mewariskan hal baik dari orang tua dan leluhur kita kepada generasi penerus, namun caranya disesuaikan pada perubahan zaman. Anak-anak kita memang berbeda, situasi mereka berbeda. Tabik.

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats