Tuesday, 1 December 2015

Mobil mogosk sering terjadi tiba-tiba.
Saat membaca koran pagi, saya tergelitik sebuah iklan asuransi dengan ilustrasi wanita sedang asyik selfie berlatar mobil mogok. Kepulan asap terlihat dari kap mobilnya yg terbuka. Dalam hati saya bergumam seandainya bukan karena demam selfie akankah wanita itu masih bs bersikap demikian santai, dengan kesasadaran yg utuh?

Fikiran saya jadi melayang kepada memori masa silam saat saya mengalami hal yang sama -tanpa selfie tanpa orang asuransi. Rasanya sedih, marah, dan stress beraaaat.. karena mogok mobil saat perjalanan menuju kantor. Sulit untuk bisa bersikap santai seperti wanita di iklan tadi.

Tapi pada akhirnya, saya hanya harus berdamai dengan situasi lalu melakukan langkah nyata mencari solusi. Emosi sesaat itu wajar, namun tidak banyak menolong.

Alhasil masalah mobil mogok kala itu bs dibilang aman terkendali -tidak termasuk sanksi telat absen.

Spanjang jalan saya bersyukur memiliki orang tua karena oleh merekalah saya diajarkan untuk tidak melekatkan benda semacam kendaraan di dalam hati yg jika terjadi luka gores padanya saya turut terluka dan perih. Jd saat mobil mogok dengan kepulan asap, dan diderek ke bengkel lalu mendapat diagnosis luka dalam yg parah dari mekanik saya pasrah saja. Lah, buat apa sedih?

Beban Fikiran Karena Benda

Benda adalah benda, namun kita sering terbuai hingga terbawa pada perasaan memiliki benda, pernak-pernik dunia. Padahal sejatinya kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia ini kecuali amal perbuatan kita (yang notabene dimungkinkan berkat modal titipan Ilahi) rasa-rasanya hanya itu yg bisa kita klaim kelak.

Saya menjadi yakin karena tidak ada seorang pun di dunia ini yg mampu menjamin bahwa apa yg ia miliki akan langgeng bersamanya. Harta, posisi jabatan, keluarga, bahkan bagian tubuh kita tangan kaki, semuanya serba mungkin lepas dari diri kita. Jadi semua hanya titipan. Memiliki adalah konsep, kepemilikan hanyalah ilusi.

Rasa memiliki ini kenapa kuat sekali melekat dalam diri kita, tak lain karena rasa itu memicu hadirnya emosi. Dari kepemilikan munculah perasaan bangga, senang, gelisah, sedih, perih kehilangan atau perasaan lain yang terkait.

Kita lihat, saat mendapat uang melalui jalan yg variatif kita senang suka cita. Saat kehilangan uang melalui jalan yang juga variatif: ditipu, dicopet, proyek bisnis yg gagal, sakit, kebakaran, kita sedih atau marah. Kenapa yg tadinya tidak ada lalu kembali tidak ada kita sesali dan kita kutuk pihak-pihak yg menjadi penyebabnya? Itulah ilusi kepemilikan.

Kita manusia adalah mahluk emosi jd wajar saja emosi berubah-ubah. Dan kata seorang bijak manusia beruntung adalah yang bisa mengendalikan emosinya. Jadi terkait benda dan kepemilikan, penting kiranya untuk memperhatikan emosi. Tentu perlu latihan. Misalnya dengan membiasakan berbagi.

Saya selalu takjub dengan orang yang sampai pada tahap berbagi secara luar biasa. Bukan kebetulan jika saya memiliki teman yg sukses berbisnis kuliner dengan percepatan yg luar biasa karena kebiasaanya berbagi. Mungkin Tuhan ingin saya belajar dari teman tadi.

Tanpa menafikan kualitas produk dan pemasaran yg ia lakukan, saya rasa energi positif dari berbagi membuatnya selalu cemerlang di tengah persaingan bisnis. Bahwasanya Ia menyukai harta, ya benar. Rumah? ia suka yang mewah kisaran harga 2 miliar. Mobil? ia suka yang sophoaticated dan baru. Tapi ia sekedar menyukainya saja tak terlalu terbuai untuk merasa memilikinya sampai hati.

Menurutnya kalau hal yang ia sukai datang dia merasa senang kalau pergi ya sudah. Sedih sebentar lalu berdamai dengan cara bersyukur. Rasa suka hanya motivator untuk bergerak dan berusaha. Ia manipulasi rasa suka itu demi merealisasikan niatnya membuat sesuatu yg berguna bagi banyak orang. Dan saya rasa ia sudah sedikit lebih dekat menuju keberhasilan.

Sayangnya saya bukan dia. Saya hanya baru bisa membaca situasinya, belum dapat bergerak seperti dia.

Kembali ke wanita selfie dengan latar mobil mogok tadi, kalau dia sih saya yakin termasuk manusia yang terlatih emosinua karena rajin berbagi.

Setidaknya berbagi foto di instagram.

#hedehh

2 comments:

  1. Kamu memang selalu pandai bermain kata-kata.

    Goodjob brader!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedangkan pakgiman selalu lincah dan pintar dalam bermanuver, hehe luar biasaaaaa.... (h)

      Delete

Blog Stats