Friday, 26 February 2016

Methamphetamine memiliki daya candu yang sangat kuat.
Dengan menghadiri workshop terkait narkoba dan prekursor, mengikuti berita di media cetak dan digital, serta sering menyerap sharing informasi dari penggiat gerakan anti-narkoba, maka Anda akan mahfum bahwasanya pasokan barang haram jaringan narkoba di Indonesia hampir tidak ada putusnya. Selain didapat dari luar negeri juga pasokan dari dalam negeri, salah satunya dari hasil produksi laboratorium klandestin yang konon cukup banyak terdapat di kota-kota besar di Indonesia.

Temuan hasil kerjasama BNN, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan POLRI di Jepara pada Januari 2016 kemarin adalah contoh supply shabu-shabu dari luar negeri yang berhasil digagalkan. Berkat jaringan intelejen aparat penegak hukum, didukung sinergi dan pengalaman teknis di lapangan seperti metode delivery control, sebanyak 200 kg shabu-shabu bisa diamankan dalam penggerebekan sebuah gudang di Jepara. Dari sini kita melihat bagaimana upaya pemasukan narkoba oleh jaringan internasional begitu masif tidak hanya melalui jalur udara dan perbatasan darat di titik terluar Indonesia namun juga melalui jalur laut menggunakan kontainer.

Dengan teknik canon ball yaitu memasukan narkoba dengan cabang jalur sebanyak mungkin, kurir sebanyak mungkin, dan kuantitas sebanyak-banyaknya, sehingga menyulitkan konsentrasi penegakan hukum, perbandingan 200 kg yang tertangkap itu bisa dibilang sebagai jumlah yang sedikit bagi mafia narkoba. Tapi tahukah Anda dengan jumlah itu, 200.000.000 gram methamphetamine, maka sebanyak 800.000.000 (delapan ratus juta) jiwa dari generasi muda kita bisa hancur terjerembab dalam jerat narkoba? Karena 0,25 gram saja sudah bisa membuat 1 orang anak muda kecanduan sebelum terjerembab lebih jauh dalam lingkaran setan narkoba. Dampak negatifnya sangat dahsyat!

Kapasitas Produksi
Dan Anda patut untuk lebih terkejut lagi, ketika membuka mata dan telinga terhadap sepak terjang laboratorium klandestin, sebuah sebutan lazim untuk tempat rahasia yang digunakan oleh jaringa narkoba untuk memproduksi shabu-shabu (narkoba) -umumnya terselubung di dalam perumahan warga. Memang laboratorium klandestin mungkin memproduksi narkoba tidak dalam skala spektakuler. Tapi melihat pola mereka konsisten, presisten, militan, bisa berpindah-pindah sehingga bisa ada dimana-mana kita patut waspada. Ini sebuah ancaman yang tidak main-main.

Sebagai contoh kasus yang pernah saya baca di Tempo mengenai ”pabrik” yang berada di Perumahan Taman Ratu, Kebon Jeruk. Pabrik ini diduga sehari bisa menghasilkan sabu sebanyak satu kuintal. Artinya? 3 ton dalam sebulan jika mereka bekerja tanpa libur. Polisi yang menangani kasus tersebut menduga bahwa pabrik ini mempekerjakan ”koki” asing untuk meracik shabu-shabu. Selain koki asing, dari beberapa kasus lain yang ditangani pihak Kepolisian terungkap bahwa koki laboratorium klandestin semacam itu ada yang berasal dari lulusan Fakultas Farmasi kenamaan di Jakarta. Ya, saya tidak terkejut. Memang seorang farmakolog pada dasarnya memiliki cukup pemahaman untuk membuat shabu-shabu. Bahkan adik saya pun bisa membuatnya jika ia mau seperti tulisan saya terdahulu.


Operasional
Sebuah laboratorium klandestin cukup membutuhkan kamar sewa (indekos) atau apartemen 1 BR untuk beroperasi. Berbeda dengan pabrik narkoba sungguhan yang umumnya memerlukan infrastruktur lebih besar sehingga penempatan pabrik seringkali berada di di pinggiran kota, misalnya di Cikande, Tangerang, atau Jasinga, Bogor. Jadi sangat fleksibel dan bisa berada di pemukiman-pemukiman warga. Dan ini menjadikannya sulit dideteksi.


Membuat shabu di rumah, cukup dengan satu ruangan kecil.
Praktek semacam itu menjadi sangat mungkin terjadi selain karena ada sumber daya manusia dan bahan baku, juga karena mudahnya mendapat resep pembuatan. Dengan pilihan teknik yang bisa dipilih sesuai keperluan mulai dari metode sederhana hingga kompleks. Dari beberapa kasus yang diungkap POLRI, kerap diperoleh sejumlah laptop sebagai barang bukti dari penggerebekan laboratorium klandestin yang didalamnya penuh dengan berbagai artikel atau tulisan tentang pembuatan sabu yang diperoleh dari Internet.

Pada tahap lebih lanjut penggunaan tenaga asing sebagai "koki" dianggap memiliki kelemahan yaitu mencolok di lingkungan sekitar. Hal ini diminimalisir oleh mereka melalui penggunaan koki lokal. Artinya, memang telah ada transfer teknologi dari koki asing ke koki lokal. Apalagi jika didukung dengan peralatan canggih, sehingga proses pembuatan bisa dilakukan dalam skala kecil namun rutin. Disesuaikan dengan kualitas yang diinginkan, sehingga pada tahap tertentu produksi dapat dilakukan lebih sederhana dan cepat.

Pembuatan shabu pada laboratorium klandestin bisa menggunakan metode bahan mentah (raw method), yakni mencam­purkan bahan tertentu dengan zat kimia tertentu, sehingga mereka tak memerlukan proses pabrik yang rumit dan berskala besar. Dalam proses demikian bagian yang sangat penting adalah prekursor, yaitu bahan atau zat yang membantu proses kimiawi untuk pembuatan shabu. Sekilas mengenai prekursor bisa dibaca di sini.


Tenaga kerja pabrik sabu-sabu ala klandestin ini juga efisien. Rata-rata hanya 10 orang. Hanya, lantaran tempatnya terpisah, mereka biasanya tidak saling mengenal. Sistem kerja mereka sangat efektif, sistematis, dan cepat. Seperti pada proses bisnis kebanyakan, tenaga paling banyak diserap justru dalam pemasaran. Sehingga banyak penangkapan terjadi hanya pada level distributor atau kurir yang memang lebih terekspos. Sedangkan para koki ini? Ya sulit, namanya juga klandestin. Rahasia.

Modus
Terkadang tempat persembunyian paling aman adalah berada di tempat yang tidak tersembunyi. Barangkali itu prinsip mereka. Sehingga perumahan dan apartemen mewah justru dipilih untuk digunakan sebagai laboratorium klandestin. Menurut Direktorat IV Narkoba dan Kejahatan Terorganisasi Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia Brigadir Jenderal Harry Montolalu, dalam suatu reportase di majalah nasional menyatakan bahwa hal ini dilakukan karena pelakunya menjadi merasa lebih aman dalam beraksi. Seperti kita ketahui perumahan dan apartemen elit itu cukup resticted, tidak sembarang orang bisa masuk. Namun satu hal yang pasti akan menjadi pembeda dari rumah atau apartemen normal, laboratorium klandestin ini memerlukan siruklasi udara yang extra dengan alat penyedot udara (exhaust) lebih banyak untuk membuang zat asam yang dihasilkan di dalam ruangan laboratorium selama proses masak.


Laboratorium klandestin sulit dideteksi.
Seperti sebuah proses manufacturing pada umumnya, pada beberapa kasus laboratorium klandestin juga menerapkan pemisahan departemen produksi. Pemisahan ini dilakukan di lokasi yang berbeda-beda. Mereka baru meramunya menjadi sabu-sabu pada tahap terakhir. Selain untuk menjaga kemungkinan jumlah pekerja yang dapat saling kontak apabila produksi dikumpulkan menjadi satu tempat yang padat, tujuan lainnya adalah alasan darurat saat ada penggerebekan. Jika satu tempat digerebek, tempat yang lain masih memiliki kesempatan untuk tutup dan pelakunya kabur.

Keuntungan lain dari sistem terpisah ini adalah saat digerebek tidak akan terdapat barang bukti shabu-shabu. Kecuali di titik akhir (penggerebekan di laboratorium proses akhir). Pada laboratorium departemen terpisah seperti ini, mereka bisa berkilah tidak membuat shabu tapi sekadar menyimpan prekursor, atau dalih lainnya.

Namun penegak hukum sudah memahami situasi ini. Sehingga pada kasus Taman Ratu, Kebon Jeruk, misalnya POLRI tetap berhasil mengorek informasi, dan dari situ dikembangkan untuk menggerbek laboratorium klandestin lain di kompleks Puri Marina Ancol Blok J-6 dan di ruko Taman Pluit Kencana.


Supply-Demand
Bagaimanapun juga peredaran narkoba adalah sebuah bisnis yang menggiurkan. Maka problematikanya akan berkutat pada supply dan demand. Jadi kenapa laboratorium klandestin marak? Tak lain karena meningkatnya konsumen dan potensi keuntungan yang diraih dari bisnis ini. Saya pribadi mendapat kesan bahwa bagi jaringan narkoba berbasis laboratorium klandestin ini, proses pembuatan tampak mudah sekali, dengan peralatan laboratoriumnya juga mudah didapat, termasuk bahan baku dan prekursornya.

Karena itu, menurut saya cara yang bisa kita tempuh untuk menghentikan semua ini adalah dengan melindungi diri kita dan orang terdekat kita dari jerat narkoba. Kita mencoba mengurangi demand, sehingga supply bisa ditekan. Selain itu untuk menangkal berkembangnya pabrik sabu skala rumahan ini, harus ada aturan tegas soal impor prekursor, regulasi dari hulu ke hilir. Selain itu, masyarakat mesti ikut mengawasi lingkungannya dengan cara lebih "srawung"terhadap tetangga.

Ayo kita gencarkan perang melawan narkoba! Good Luck! :)

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats