Friday, 1 April 2016

Work life balance bukan sesuatu yang mustahil.
Dari sharing orang yang pernah berbincang mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, atau melalui observasi yang tentunya subjektif pada orang tertentu di sekitar, saya sampai pada suatu pemikiran yang cukup menggelitik.
Yaitu bahwa mereka yang merasa puas dengan kualitas kehidupan pribadinya, cenderung memiliki performa yang lebih baik dalam pekerjaannya.
Dan karena performa yang baik akan lebih banyak diikuti capaian kerja yang baik, maka kepuasan mereka (dan orang disekelilingnya) terkait pekerjaan menjadi lebih mudah dirasakan.
Dalam hemat saya kemampuan seseorang untuk menghidupkan hidup bisa menjadi faktor pembeda. Kita bisa melihat bagaimana orang yang benar-benar hidup di tempat mereka bekerja sementara sebagian lainnya yang hanya berkunjung -atau parahnya berkunjung untuk merasa terbelenggu.
Terkait yang terakhir tadi saya teringat nasihat kurang lebih:
"Jika bosan duduk, berdirilah. Jika bosan berdiri, duduklah. Jangan sampai terjebak, alih-alih tidak duduk dan tidak berdiri Anda malah jatuh!"
Memang bagi mereka yang kualitas hidupnya terbelenggu oleh pekerjaan perlu melakukan langkah nyata. Jangan diam. Karena hidup adalah hari ini, dan kebahagiaan bukan dirasakan esok, apapun alasannya. Bisa resign, bisa reframe, atau dengan melakukan perjalanan ke dalam untuk mendapati kunci melepaskan belenggu.
Jadi entah ini masuk akal atau tidak, namun bukan dari pekerjaan kita bisa memperoleh kebahagiaan. Melainkan dari kebahagiaan diri lah kualitas pekerjaan bisa dimaknai dengan lebih baik.
Dengan menghidupkan hidup kita bisa mengerjakan pekerjaan secara lebih hidup. Dan somehow, pekerjaan itu akan ikut menjadi warna-warni kebahagiaan kita.
Tiap pribadi tentu lebih paham bagaimana merasa bahagia dalam kehidupan masing-masing. Namun yang perlu diingat adalah untuk membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Hehe.. Good luck! :D
tags: #worklifebalance #peace #happiness #joy

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats