Tuesday, 2 August 2016

Kita musti berhati-hati menerima informasi.
Harapan saya terkait pilkada Jakarta, kepada mereka yang sedang kampanye baik secara sukarela maupun sukareceh di facebook (khususnya) agar bisa langsung to the point saja. Tidak perlu bertele-tele dengan algoritma yang lebih rumit dari logika token bank yg konon sulit dibobol hacker itu. Contoh.. Bertele-tele dengan bahasa program semacam: "Mendingan kafir tapi amanah daripada muslim tapi korupsi".. Atau parahnya ikut-ikutan dibalik.. "Mending korupsi tapi muslim daripada amanah tapi kafir"
Itu bener-bener ngabis-ngabisin bandwith. Ya, bandwith otak! Sayang banget 200.000 neuron yang degenerasi di otak per hari itu mati membawa program nirguna (haha, nirguna).

Mau sampai kapan kampanye usang begitu dipraktekiiin. Cuma mainin ego dan keyakinan paling dasar dari calon penyoblos. Bahasa begitu adalah pemaksaan logika head to head antara yang keblinger dengan yang keblinger. Milih mana aja tetep keblinger. Karena kata kafir sudah mengalami peyorasi sedemikian parah.

Lah wong itu bahasa propaganda ala ala Nazi (jagonya propaganda, prooven). Bahasa katakanlah AB-Choices. Dengan didasari oleh teori pilihan rasional, kita dipropaganda atau dipaksa secara tidak sadar untuk memilih yang paling rasional dari yang nggak rasional. Tentunya propaganda itu sah-sah saja kalau memang ada pilihan yang benar-benar rasional seperti saat kita melakukan propaganda kepada anak-anak kita:

"Nak, pilih mandi sekarang buruan atau nanti ndak boleh ikut mama ke mall di rumah saja main sama ayah?!"  Itu AB-Choices yang normal. Dua-duanya layak dipilih. Rasional.

Lagipula, dalam war pilkada kekinian yang mana manusianya sudah cerdas dan pinter-pinter, hal yang dimainin khan seharunya isu kompetensi, isu program, isu trackrecord, isu visi misi dll yang mana peperangannya adalah head to head antara hal positif dengan hal positif.
Jadi nanti kalo ndak bisa nge-war soal yang terakhir disebut itu, yaaa... to the point aje kampanyenye nape bang, mpok? Misal nih: seandainya calonnya tar cuma dua Yusril dan Ahok, abang sama mpok ntuh tinggal bilang:
"Mendingan Ahok daripada Yusril!!" Atau "Mendingan Yusril daripada Ahok!!"

Dah kelar kan gitu?
Atau kalau mau lebih extrim sekalian aja bilang: mending kafir daripada muslim. Atau mending muslim daripada kafir. Gitu! Gak usah ribet bertele-tele pake algoritma yang bikin otak error 404 page not found!

Tapi coba pikir, salah apa dan apa urusannya coba kita yang katakanlah kafir dan yang katakanlah muslim dicatut egonya buat perang kampanye? Tega sekaliiiiii agama dijual-jual untuk membeli pertikaian dan permusuhan?

Baiklah, kalau memang maunya mbentrokin antara agama satu dengan lainnya ya monggo. Apa tidak sekalian saja kita berbondong-bondong kampanye bubarin negara. Trus referendum wilayah per wilayah, sesuai polarisasi SARA yang dikehendaki? Ayok saja sih, tapi saya pribadi takut kakek nenek saya yang notabene veteran dan ikut berjuang dan punya bendera merah putih di bertuliskan "Pedjoeang '45" di kuburannya malah bangkit dari kubur marahin saya. Hehe

Ya yang penting mari kita sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintain pertanggungjawaban, ada karma baik buruknya, Jadi... Yuk kalau nanti sudah waktunya kampanye ya kampanyelah yang bener dan pener. Walaupun GOLPUT!! Hahaha...

0 comments:

Post a Comment

Blog Stats